by

Yulinda Wiratnasari, Amd. Kep : Cumlaude Keperawatan Berbekal ‘TEKAT KUAT’

Loading…

Surakarta – Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi kita dalam menempuh kehidupan yang lebih baik. Pendidikan juga akan mengangkat derajat kita untuk lebih baik dari sebelumnya. Bagi sebagian anak, pendidikan merupakan sarana untuk membanggakan kedua Orang Tuanya yang telah berusaha keras untuk keberhasilannya menyelesaikan pendidikan dengan hasil yang memuaskan.

Loading...

Yulinda, Gadis Cantik dengan style sederhana ini mampu meraih gelar Cumlaude diakhir jenjang pendidikan Diploma III Keperawatannya. Tentunya juga tidak mudah, segalanya memerlukan kerja keras dan semangat tinggi untuk menggapainya. Cerita perjuangannya patut dijadikan panutan untuk kaum muda saat ini.

Cerita singkat memasuki Perguruan Tinggi, latar belakang keluarga yang ‘kurang mampu’ dalam hal ekonomi tak pernah mengurangi niatnya sedikitpun untuk bersekolah. Yulinda Wiratnasari lahir dari pasangan Radi Witowiratno dan Siwiani. Ia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara. Kedua Orang Tuanya memang tidak memiliki penghasilan tetap, namun ia terus mencoba untuk mencari peluang untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Seusai menempuh pendidikan di SMA N 1 Gondang, Ia terus berusaha untuk mencari Perguruan Tinggi yang tidak memerlukan banyak uang untuk biaya Pendidikan. Berbagai tes dan persyaratan terus dicoba agar dapat lolos seleksi Perguruan Tinggi Negeri. Namun, sekian banyak Perguruan Tinggi Negeri yang ia coba tidak ada yang diterima.

Hingga saat detik-detik terakhir Ayahanda Yulinda menyampaikan pesan kepadanya untuk bertekat memiliki semangat kuat dan bagaimanapun caranya ia harus melanjutkan pendidikan yang sesuai dengan minatnya, yaitu Keperawatan. Dari situlah Yulinda berusaha mencari Perguruan Tinggi yang dapat dijangkau dengan dana yang lebih ringan. Pada akhirnya ia berhasil masuk di STIKES 17 Surakarta.

Perjuangan belum usai, pada awal semester 1 dan 2 prosesi belajar masih berjalan lancar. Bahkan Yulinda sendiri dianggap sebagai Mahasiswi yang sangat komunikatif, ceria dan juga pintar. Kedua Orang Tua Yulindapun juga sangat percaya dengannya bahwa Ia dapat menyelesaikan pendidikan dengan hasil ang memuaskan. Namun ditengah perjalanan, rintangan hadir menyapa sampai-sampai gadis cantik ini hampir putus pendidikan. Peristiwa itu terjadi disaat Ia berada di semester 3 dan 4, nilainya turun begitu drastis dan semangatnya yang terbangun kini runtuh. Berbagai cara dilakukan, Ayahanda Yulinda yang menderita sakit katarak sampai memutuskan untuk operasi di Puskesmas dengan alasan biaya yang lebih ringan dan sisanya dapat digunakan untuk membantu anaknya. Para Dosen Yulindapun juga selalu menanyakan mengenai hal tersebut, mengapa kini Ia menjadi pendiam dan nilainya begitu turun.

Setiap masalah yang hadir, tentunya akan membawa solusi. Yulinda juga memperoleh bea siswa untuk melanjutkan Pendidikan. Waktu berjalan dengan cepat hingga tiba waktunya untuk menempuh berbagai prosesi penelitian dan sidang untuk mengakhiri jenjang pendidikan Diploma III. Dari situ, Yulinda selalu mengingat kata-kata ayahnya untuk selalu berjuang lebih keras dengan tekat yang kuat, untuk selalu fokus pada tujuan agar berhasil mencapainya. Namun cobaan juga tak dapat untuk ditolak kehadirannya. Diwaktu Yulinda sudah hampir sampai dipenghujung prosesi penelitiannya, Ayahanda harus masuk ke Rumah Sakit karena mengalami pembengkakan ginjal. Disitu Yulinda kembali kehilangan semangatnya, Orang Tuanya yang diharapkan dapat mendampinginya diprosesi Wisuda nantinya kini harus berbaring lemah di Rumah Sakit. Tangisannya tak dapat ditahan ketika Ia mengunjungi Ayahnya. Ia mendengar baik-baik semua kata-kata yang diucap oleh Ayahnya.

Ayah Yulinda berpesan agar Ia tidak melulu memikirkan keadaannya dan memintanya untuk melanjutkan perjuangan. Selama sebulan penuh, Yulinda berusaha untuk menyelesaikan seluruh persyaratan untuk dapat menempuh akhir Pendidikan. Usaha keras membuahkan hasil, dalam keadaannya yang kesulitan dengan kondisi ekonomi yang tidak pasti dan juga kesehatan Ayahnya yang membuatnya selalu khawatir, Yulinda berhasil melewati semua prosesi Sidang dan Penelitian. Hingga tiba waktunya untuk Sidang Terbuka diselenggarakan. Diumumkan bahwa Ia berhasil menjadi lulusan dengan IPK teringgi dari 72 Mahasiswa yaitu 3.59 Cumlaude. Keberhasilannya juga membuat Ayahanda berangsur membaik. Ia berhasil mengukir senyuman haru diwajah kedua Orang Tuanya. Kini perjuangan mereka bertiga menuai hasil.

“Pada intinya, terkadang kita memang harus bermodalkan nekat, kita tidak perlu memikirkan kedua Orang Tua tidak mampu menyekolahkan dengan alasan tidak punya pekerjaan tetap, kedua Orang Tua sayapun tidak memiliki tanah untuk dijual sebagai biaya kuliah, nyatanya mereka berhasil mengantarkan saya sampai selesai Diploma III. Rejeki sudah ada yang mengatur, jangan menuntut menjadi yang terbaik. Mengalir saja, ikuti dan bulatkan tekat bahwa kita bisa membuktikan pada kedua Orang Tua kita, buat mereka bangga sampai dunia ikut bangga.” pesan Yulinda kepada generasi Indonesia yang saat ini memiliki kesulitan dalam hal ekonomi. Ia berharap hal itu bukan dijadikan sebagai alasan berhentinya kita menuntut ilmu, namun untuk dijadikan cambuk agar kita dapat memperbaiki keadaan ekonomi keluarga dan menjunjung nama kedua Orang Tua.#ky

banner 300250

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed